Selasa, 14 Juli 2026

Mereka menyangka berbuat sebaik-baiknya

Ada orang yang sholatnya tidak pernah bolong. Hafalannya banyak. Amalannya panjang. Pengetahuan agamanya cukup untuk mengisi kajian dan membuat orang lain merasa kurang.

Tapi di balik semua itu, ada hati yang keras. Ada lisan yang mudah menghakimi. Ada mata yang memandang rendah orang lain yang amalannya tidak sepanjang miliknya.

Dan Al-Quran menyebut kondisi ini bukan sebagai keanehan, tapi sebagai bahaya yang paling dekat dengan orang yang paling banyak beramal.

Rasulullah berkata: "Akan datang seseorang dari penduduk surga." Seseorang masuk, biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Kejadian itu berulang tiga hari berturut-turut.

Abdullah bin Amr penasaran. la menginap di rumah orang itu, mengamati amalannya. Hasilnya mengejutkan. Sholatnya biasa. Puasanya tidak luar biasa. Tidak ada amalan khusus yang membedakannya.

Sampai akhirnya orang itu menjawab dengan sederhana: "Aku tidak menyimpan dalam hatiku rasa dengki kepada siapapun." Bukan amalan yang mengantarkannya ke surga. Tapi kondisi hatinya.

Al-Quran tidak pernah memisahkan amal dari hati: "Celakalah orang-orang yang sholat, yaitu yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat riya." - (QS. Al-Ma'un: 4-6)

Bukan orang yang tidak sholat. Orang yang sholat, tapi hatinya tidak ikut. Karena amal tanpa hati bukan amal yang hidup, ia adalah pertunjukan. Yang memukau orang di sekitarmu tapi tidak bergerak satu langkah pun menuju Allah.

Dan yang paling menakutkan, orang yang amalnya paling banyak adalah yang paling mudah terjebak di sana. Karena ia sudah terlalu terbiasa melakukan sampai tidak lagi merasakan apa yang sedang ia lakukan.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالًا
Qul hal nunabbi'ukum bil-akhsarīna a‘mālā.

Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" - Surah Al-Kahfi (18), ayat 103

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيُوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Alladzīna ḍalla sa'yuhum fil-ḥayātid-dunyā wa hum yaḥsabūna annahum yuḥsinūna ṣun'ā.

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. - Surah Al-Kahfi (18), ayat 104.

Mereka menyangka melakukan yang terbaik. Ini bukan tentang orang yang malas beribadah. Ini tentang orang yang sangat rajin, tapi kehilangan sesuatu di dalamnya yang membuat semua kerjanya menjadi sia-sia.

Dan yang paling menyakitkan: mereka tidak tahu. Semakin banyak amal tanpa memeriksa hati, semakin jauh dari Allah. Bukan karena Allah tidak mau menerima. Tapi karena yang datang hanya tubuhnya, sementara hatinya ada di tempat lain.

Bagaimana cara tahu apakah hatimu masih terhubung dengan amalmu?

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ أَيْتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ )

Innamal-mu'minūnalladzīna idzā dzukirallāhu wajilat qulūbuhum wa idzā tuliyat 'alaihim āyātuhu zādathum īmānan wa 'alā rabbihim yatawakkalūn.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. - Surah Al-Anfal (8), ayat 2.

Gemetar. Bukan hafal. Bukan fasih. Bukan banyak. Gemetar, tanda ada sesuatu di dalam dada yang masih merespons, yang masih merasakan kehadiran Allah bukan hanya di pikiran tapi di seluruh dirinya.

Kalau kamu masih merasakannya, hatimu masih hidup. Dan itu lebih berharga dari seribu rakaat yang kosong.

Mungkin sekarang kamu bertanya, apakah amalku selama ini sampai? Apakah ibadahku hidup, atau hanya berjalan otomatis?

Pertanyaan itu sendiri adalah jawaban pertamamu. Hati yang benar-benar mati tidak akan pernah mempertanyakan kondisinya sendiri.

Al-Quran tidak diturunkan untuk menghakimimu. la diturunkan untuk menunjukkan celah yang selama ini tidak kamu lihat, bukan agar kamu berhenti beramal, tapi agar kamu mulai beramal dengan cara yang berbeda.

Lebih sedikit mungkin. Tapi lebih dalam. Lebih jujur. Lebih hadir. Karena setiap hari yang kamu mulai dengan hati yang masih mau memeriksa dirinya, adalah hari yang tidak akan sia-sia.
Share: 

Selasa, 25 November 2025

Di balik Keputusan

Dalam hidup, kita sering kali terpaku pada apa yang kita pilih. Pekerjaan mana yang harus diambil, hubungan mana yang harus dipertahankan, impian mana yang harus dikejar. Kita sibuk menilai hasil akhirnya benar atau salah, bagus atau buruk, beruntung atau sial. Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, hidup sebenarnya bukan tentang apa yang dipilih, melainkan kenapa pilihan itu terjadi.

Setiap keputusan muncul dari perjalanan panjang yang membentuk diri kita. Luka, keberanian, ketakutan, harapan, intuisi, dan pengalaman. Terkadang pilihan lahir dari keyakinan yang matang, namun sering juga muncul dari kondisi terdesak yang memaksa kita bergerak. Apa pun bentuknya, alasan di balik pilihan adalah cermin dari versi diri kita pada saat itu dan itu tidak pernah sia-sia.

Namun kita juga harus sadar, setiap pilihan selalu menuntut pengorbanan.

Ketika memilih jalan A, kita meninggalkan jalan B. Saat mengejar impian, kita melepas kenyamanan. Ketika mencintai seseorang, kita menyingkirkan kemungkinan lain. Dan saat memilih bertahan, kita mengorbankan kesempatan untuk pergi, atau sebaliknya.

Pengorbanan bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa kita berani bergerak. Bahwa kita sadar hidup bukan hanya tentang mendapat, tetapi juga tentang melepaskan. Bukan tentang menang, tetapi tentang tumbuh. Bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau belajar.

Pada akhirnya, pilihan hidup bukan untuk membuat kita sempurna. Pilihan hidup ada untuk membuat kita utuh.

Jadi, ketika kamu ragu atau menyesal atas keputusan yang pernah dibuat, ingatlah,
Setiap pilihan terbentuk dari alasan yang pada saat itu kamu yakini sebagai yang terbaik.
Dan setiap pengorbanan adalah tiket menuju versi dirimu yang lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih mengerti arah hidupnya.

Teruslah memilih. Teruslah bergerak.
Karena hidup bukan tentang apa yang kau pilih tetapi tentang perjalanan yang membawamu pada pilihan itu, dan keberanianmu menanggung konsekuensinya.
Share: 

Senin, 24 November 2025

Kita diciptakan untuk bertahan

Ada kalanya hidup terasa seperti hantaman bertubi-tubi. Kenyataan tidak selalu mengikuti harapan. Sering kali justru membawa kita pada situasi yang membuat dada sesak, hati remuk, dan pikiran ragu untuk melangkah lagi. Realitas memang keras, kadang terlalu keras untuk kita yang hanya manusia biasa.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Tugas kita sebagai manusia adalah melanjutkan kehidupan.

Kita mungkin jatuh, patah, kehilangan, atau dikhianati. Tapi tidak ada babak hidup yang berhenti hanya karena rasa sakit datang. Kenyataan yang pahit bukan untuk membuat kita berhenti, tetapi untuk menguji seberapa kuat kita berdiri ketika tidak ada hal lain yang menopang selain keinginan untuk tetap hidup.

Terus bergerak bukan berarti kita harus selalu kuat. Kadang melanjutkan kehidupan berarti menangis malam ini tapi mencoba lagi besok. Kadang berarti berjalan pelan, tersandung, lalu bangkit dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Dan itu tidak apa-apa.

Manusia memang tidak diciptakan untuk sempurna, kita diciptakan untuk bertahan.

Realitas boleh melukai, tapi harapan selalu bisa tumbuh. Selama kita memilih untuk melangkah, sekecil apa pun langkah itu, kita sedang membangun kembali diri kita sendiri. Dan suatu hari nanti, rasa sakit hari ini akan menjadi bukti bahwa kita pernah kuat pada saat paling rapuh dalam hidup.

Jadi, ketika hidup terasa berat, ingatlah,
Meneruskan kehidupan bukan hanya tugas kita, tapi juga bukti keberanian kita.

Teruskan hidupmu. Kamu tidak sedang berjalan tanpa arah, kamu sedang membentuk masa depanmu, satu langkah demi satu langkah.
Share: 

Selasa, 24 Desember 2024

Hanyut Rindu

Malam ini, hujan turun seperti air mata langit, membasahi jendela kamar. Aku menatap ke luar, dan teringat padanya. Kami pernah berjalan bersama di malam hujan seperti ini, menikmati keindahan malam dan berbagi cerita.

Tangannya memegang tanganku, membuatku merasa aman dan nyaman. Kami berjanji untuk selalu bersama, tapi kenyataan berbicara lain. Dia pergi, meninggalkan aku sendiri dengan kenangan.

Hujan semakin deras, seperti menggambarkan rindu yang menghanyutkan hati. Aku merasa sedang terhanyut dalam lautan sepi. Aku merasakan kekosongan yang tak terisi.

Hujan berhenti, tapi rindu tidak. Aku menutup mata, membiarkan kenangan kami menghanyutkan. Mungkin suatu hari, rindu ini akan berakhir. Tapi, untuk sekarang, aku akan menyimpan kenangan, di malam hujan ini.
Share: 

Sabtu, 04 Mei 2024

Mengalirlah

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, aliran kehidupanmu mengucur dari situ, semua bentuk yang engkau lihat, memiliki “mata air tetap” di alam tak bertempat. Tidak mengapa ketika bentuk musnah, karena aslinya selalu abadi.

Semua wajah cantik yang pernah kau lihat, semua kata penuh makna yang pernah kau dengar, janganlah berduka ketika semua itu hilang, karena sesungguhnya tidaklah demikian adanya

Ketika mata air menjadi sumber tak-terhenti, cabangnya terus mengalirkan air kemana-mana, lalu, apa yang engkau keluhkan? apa juga yang engkau risaukan?

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, dan semua ciptaan ini sebagai sungai, ketika pancuran mengucur, sungai pun mengalir dari situ.

Taruhlah kesedihanmu, dan teruslah minum air sungai ini, jangan pernah pikirkan kapan surutnya, aliran ini tiada hentinya.

Dari saat pertama engkau memasuki alam wujud ini, sebuah tangga sudah ada di hadapanmu, sehingga engkau dapat menapaki tangga ini untuk naik keatasnya.

Pertama engkau adalah mineral, lalu engkau berubah menjadi tetumbuhan, kemudian engkau menjadi hewan, hal ini semua telah kau lewati dan menjadi rahasia bagimu?

Kemudian engkau menjadi insan, dengan pengetahuan, akal dan keyakinan.

Pandanglah raga ini, yang tersusun dari tanah liat kering, pandanglah bagaimana dia telah tumbuh dengan sempurna. Ketika engkau berjalan terus dari insane, tiada diragukan lagi engkau akan menjadi malaikat.

Ketika engkau telah meninggalkan bumi ini, maka kedudukanmu adalah di langit, lewatilah ke-malaikat-anmu, masukilah samudra itu.sehingga tetesanmu menjadi lautan yang tak terhingga luasnya. tinggalkanlah kata “manusia” katakanlah “Yang Maha Esa” dengan seluruh jiwamu.

Tidak menjadi soal bila raga menjadi tua, lemah dan lusuh; ketika jiwa senantiasa muda.

Surah An-Nisa, (4 : 79)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah (faminallah), dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri (faminnafsika) . Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

 •••


Share: 

Sabtu, 07 Oktober 2023

Menggapai Sumeleh

"Semua itu tidak ada" (kabeh kui ora ono)
Yang ada hanya Allah semata. Egoisme atau keakuan digeser dan dihancurkan. Jiwa menjadi kosong dari segala sesuatu kecuali Allah.
Gambaran tentang makhluk dibongkar dan ditiadakan untuk sementara waktu atau untuk waktu yang lama.

Tiada Tuhan selain Allah, Tiada wujud sesungguhnya kecuali Allah, dan tiada ada yang dituju atau dimaksud kecuali hanya Allah.

Sumeleh tempatnya dalam hati, pikiran kosong dari segala masalah, pengertian dan benda-benda kecuali hanya Allah. Pikiran tidak dapat melihat dan membuktikan hakikat Allah.



"Laisa Kamitslihi Syaiun"
Tan keno kinoho ngopo. Oleh karena itu pikiran mesti sumeleh. Sumeleh adalah milik hati. Hati mesti dibersihkan sebersih-bersihnya hingga tiada yang lain kecuali Allah. Hati disiapkan sedemikian rupa dengan dzikrullah dan akhlaq al karimah.

Sumeleh adalah sarana/metodologi menuju ma'rifat. Sebagai metodologi, sumeleh menduduki posisi penting dalam sirri ma'rifat. Hanya kepada Allah lah jalan kembali. Pada Hakikatnya, Allah sendiri yang menjalankan dan membuat metodologi itu hidup dan berkembang. Allah sendirilah yang menghendaki jalan itu berdiri. Adanya Allah menghendaki ketiadaan diri. Disini keberadaan manusia (eksistensialisme) mengalami peleburan, penghilangan, dan peniadaan untuk mencapai "Ada yang Sejati" (Allah).

Ibaratnya, hanya yang kosong yang dapat diisi. Allah akan singgah ke rumah hati yang kosong dari syirik dan segala sesuatu selain-Nya.
Hati hanya menerima tauhid yang dicapai dengan Sumeleh.
Hati yang demikian yang siap menampung Allah dengan Ma'rifat.
Share: 

Jumpa Sunyi

Di ujung bifurkasi
Nampak sosok subtitusi
Yang sempat hadir dalam mimpi
Bersambang mengisi imaji

Sosok lampau yang pernah menyuguh elegi
Sosok yang mampu menghentikan rotasi bumi
Mengunci hati
Meretas mimpi

Gurat senyum mendobrak sanubari
Menghujam egosentris pun emosi
Memecah sunyi

Kehadiran yang senantiasa menyumbang sajak puisi
Tak perlu tafsir, mencari arti
Hanya perjumpaan untuk pergi
Bukan perjumpaan untuk kembali.

------


Coretan kala itu.
Lutfie Nur Ikhsan
5 April 2023
Share: 

Rabu, 12 Juli 2023

Aku MilikMu

Bila engkau tulus mencintai seseorang engkau akan memberikan dirimu secara utuh dan penuh. Dan kau bisikan "Aku milikmu, aku milikmu".

Bila engkau mencintai Allah, katakanlah dengan tulus dan lemah lembut :

"Hamba milikMu, milikMu, milikMu, hamba rela. Karena sesungguhnya memang milikMu secara utuh dan penuh.
Seluruhnya Engkau Ya Allah. Memilikiku sejak awal sampai akhirku. MilikMu sejak dulu, sekarang, dan akan datang.

Allah, Allah, Allah. Segala gerak gerikku milikMu. Segenap Cinta, Kebaikan, Amal Sholeh adalah milikMu. Sedangkan segenap Kelalaian, Keburukan, Kejahatan, Kekufuran, Kefasikan, dan Keangkuhan serta Kenistaan adalah milikku.
Aku rela Engkau Ya Allah menjadi Tuhanku, Islam Agamaku, dan aku rela Muhammad sebagai Nabi dan Rasulmu.

Ya Allah Tuhanku, tambahkanlah ilmuku. Berilah hambaMu rezeki berupa kepahaman dan jadikan aku masuk golongan orang yang sholeh".

Aamiin..

Share: 

Senin, 10 Juli 2023

Falsafah Pangkon

Dalam aksara Jawa penggunaan PANGKON adalah untuk mematikan huruf hidup di akhir kata.

FALSAFAH PANGKON itu tentang bagaimana kita kembali pada fungsi atau bagaimana kita menempatkan diri. Tugas dan fungsi sebagaimana mestinya, dijalani tanpa lagi memikirkan kepentingan diri.

FALSAFAH PANGKON, jelas sekali, membutuhkan kebesaran hati. Orang yang tidak memiliki kebesaran hati akan selalu merasa sulit bahkan menolak menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain. 

Mengapa aku lagi, mengapa harus aku, bagaimana dengan urusan pribadiku, dan lain sebagainya, menjadi berbagai alasan untuk menghindar memikul suatu tanggungjawab.

FALSAFAH PANGKON juga bukan tentang sekadar berani bertindak, tapi merupakan proses yang diawali berdamai dengan diri sendiri. Maka dalam ungkapan jawa "Yen dipangku mati".
Membutuhkan fase untuk menjinakkan diri sendiri, hingga diri ini menjadi lebih fleksibel dan siap untuk berbagi dan memberikan jerih payah terbaik demi manfaat dan kebahagiaan orang lain.

Semoga yang sedikit ini Bermanfaat.
Share: 

Minggu, 09 Juli 2023

Materialisme Dialektika Cinta


Cinta merupakan bentuk kecil dari materialisme Dialektika dimana materi berubah menjadi Ide.

Dari Mata Turun Ke hati ungkapan lazim tapi penuh makna dan rasa ketika panah asmara menghujam tak seorangpun yang luput dari deritanya.

Cinta bukan cuma soal janji dan kesetiaan, dia tumbuh bersama perasaan yang tiada ujung
Cinta bukan soal teori dan prasangka ia adalah fenomena alami yang tak terjelaskan.

Rasa sayang tumbuh tak mengenal siapa dia hanya muncul bersama kenyamanan.
Tak peduli betapapun sulitnya untuk sekedar melepas cinta.

Pengorbanan jiwa bukan persoalan besar untuk sebuah hasrat yang menggebu gebu, ketika penghianatan merusak bunga yang sedang mekar belati tajampun tak terasa menembus kulit.
Share: 

Senin, 02 Mei 2022

Ternyata kita keliru

Kita melihat hidup orang lain begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..
Kita melihat hidup teman-teman kita tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..
Kita melihat hidup saudara kita tenang tanpa ujian, Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dalam kehidupannya..
Kita melihat hidup sahabat kita begitu sempurna, Ternyata ia hanya berbahagia “menjadi apa adanya”..
Kita melihat hidup tetangga kita beruntung, Ternyata ia selalu tunduk pada Tuhan untuk bergantung..
Maka Kita merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain..
Mungkin Kita tak tahu dimana rejeki kita.. Tapi rejeki kita tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung, Tuhan telah memerintahkannya menuju kepada kita…

Tuhan yang Maha pengasih menjamin rejeki kita, sejak 9 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu kita ...
Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja/berusaha. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..
Manusia membanting tulang, demi angka-angka pendapatan dan simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya..
Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak..
“Darimana dan digunakan untuk apa” 
Karena rejeki hanyalah “Hak Pakai”, bukan “Hak Milik”… Jangan lupa menjadi Berkat bagi orang lain ...
Share: 

Selasa, 04 Januari 2022

2595 Day.


Jujur semenjak hari itu, tak ada yang bisa aku tuliskan dan katakan kepadamu kecuali kata "Terima Kasih, dan Maaf".

Aku merasakan seolah-olah tak pernah terjadi yang namanya perpisahan. Tak pernah hilang satu haripun bayangmu dalam pikiranku.
Kita berproses, kita tumbuh hingga tiba pada hari ke 2595 dari hari dimana kita mendapatkan legitimasi dari semesta, bahwa kita adalah 2 insan yg saling mencintai.
Iya, 2 insan yang saling mencintai, namun tidak untuk dipersatukan.

Terimakasih dan maaf untuk semua perasaan ini
Terima kasih kamu sudah menjadi salah satu bagian proses pendewaaaanku.
Juga terima kasih karena kamu sempat menjadi salah satu kebahagian yg aku harapkan berujung sempurna.
Meskipun tidak demikian.

Dan sekali lagi, maaf.
Karena mungkin kamu sempat terbebani dengan rasa yg aku tempatkan ke kamu.
Rasa yg mungkin sempat aku sematkan dalam setiap perjumpaanku dengan tuhan.

Apakah aku akan berubah setelah ini?
Tidak. 
Aku tidak akan berubah hanya karena akhirnya tidak sesuai dengan harapanku.
Kamu berhak bahagia dengan pilihanmu.

Perihal rasa dan perasaan,
Biarkan itu menjadi tanggung jawabku. Hari ini aku merasakan puncak dari sebuah Kebahagian.

Semoga kamu bahagia,
Semoga itu selamanya.
Sakinah ya dek.

Magelang
Selasa, 4 Januari 2022.


Share: 

Rabu, 31 Maret 2021

Relung Merenung

( nulisku tanpa ilmu, nanging soko krentek ing atiku)

Kalau hatimu merasa gundah gulana, itu pertanda jika dirimu kurang membuat senang, tertawa pada sesama dan padaNYA.

Kalau hidupmu merasa banyak masalah, itu berarti dirimu kurang banyak berbuat kebaikan pada sesama dan padaNYA.

Kalau hidupmu merasa lapar dahaga , itu berarti dirimu kurang gentur tirakat kepadaNYA.

Kalau ilmu serasa kurang bermakna, itu berarti dirimu kurang mensifati gayuhing ilmu dan laku bekti padaNYA.

Kalau dirimu pening memikirkan kahanan, itu berarti dirimu lupa batas kemampuanmu dan batas tugasmu hingga menjadi tinggi angan, gede rasa mampu menyelesaikan segala masalah luasnya kahanan, lupa pembagian tugas dan wewenang yang tuhan amanatkan.

Relung Renung
Madep mantep tanpo nyawang tujuane liyan.
Pasrahke tanggung jawabe kahanan marang tugase dewe-dewe.
Legowo narimo keputusan Gustine, tansah nyuwun barokahe.

Relung Renung
Menahan dirimu, dalam ucapan, dalam komentar jika bukan wewenang dan dasar ilmu dan amanah dari Tuhanmu. Itu lebih beradab menyikapi takdir, masalah itu indah jika sirna dengan kebaikan dan dasar ujian ketabahan dalam gayuh berkah barokah ing alam tujuan kelanggengan.

Matur Suwun.
Share: 

Kamis, 25 Maret 2021

Pertemuan dengan Anakku

Nak, sebab apa Ayah bertemu denganmu malam ini.
Yang mungkin juga terlalu siang untuk menuliskanmu.

Dirimu sangat cantik, pipi dan matamu indah sama persis dengan Bundamu. Kau sudah cukup besar nak bahkan ayah kualahan saat akan menggendongmu. Walau kau masih kanak-kanak namun kau sudah terlihat seperti seorang gadis.

Oh iya nak, entah gambar itu waktu kapan, kita bertiga kompak perpakaian Kaos hitam, berwisata bersama-sama. Masih dengan bundamu yg sangat senang menguncir rambutmu di sebelah kanan, sedang dirinya masih dengan kunciran rambut di belakang, serta ayahmu? masih malas mengurus rambutnya. hahaha

Situasi dengan penuh Cinta dan kegembiraan. Seperti tak mau cepat berlalu pertemuan ini, Kau memilih suatu kota untuk kita berwisata bersama, dimana Ayah dan Bundamu dulu banyak menghabiskan waktu disana untuk sekedar melepas lelah ataupun membicarakan tentang kita bertiga.
Nak, sebelum engkau hadir sebagai hadiah untuk Ayah Bundamu engkau sudah ada nak.
Gurat senyum dan tawa di pipimu adalah hasil dari pahit manisnya kisah orang tuamu.

Di suatu tempat dimana kau masih asik dengan gendongan ayahmu serta bundamu yg sibuk mengabadikan momen yg ada. Tempat dimana gelap dan cahaya bertemu, Penuh suka cita ketika Kau digendong ayahmu, tercium bau shampo yang biasa bunda pakaikan untukmu. Bundamu berjalan di depan tertawa-tawa membuat Story di Sosial Medianya, kita bertiga berada dalam satu Frame yg sama penuh canda dan tawa.

Kau sama dengan anak-anak seumuranmu, sangat senang ketika berada diantara gandengan Ayah dan Bundamu. 
Tepat di ujung dari tempat kita berdiri ini, berjajar seniman dan pujangga yg menampilkan karyanya.
Tetlihat bundamu tertarik dengan satu lukisan berukuran 30x50cm yang berulang kali dipegang dan dilihatnya. Yang biasanya Ayahmu selalu tertarik dengan karya seni, kali ini tidak ada satupun karya sesorang yg membuat Ayahmu tertarik untuk melihatnya.

Engkaupun terlihat tak tertarik nak, entah bosan atau apa dengan manja kau memeluk Ayahmu bercanda berdua sembari menunggu Bundamu yang masih sibuk melihat-lihat lukisan yang dipajang. 
Ayahmu tersadar mengapa karya yang dipajang tidak ada satupun yang menarik. Karena tepat disampingnya ada Karya yang sedang memeluknya. Ya nak, engkaulah karya masterpiece yang tak ada satu orang pun yang mampu menghadirkannya.

Dari mana engkau hadir, dari mana engkau ada.
Yang pasti, Engkau ada sebelum engkau ada. Engkau terlahir dan diasuh oleh Kelapangan hati seorang pujangga, serta Kerelaan Hati seorang wanita. Engkau akan tumbuh dewasa dari ke-Ikhlasan mereka berdua.

Terima kasih nak, atas pertemuan ini.
Maaf jikalau ayahmu tak bisa menuliskan semuanya.
Salam untuk Bundamu.

Magelang.
25/3/2021
Share: 

Kamis, 25 Februari 2021

Menangkap Cahaya

Dalam meniti jalan Tuhan dan mencari kesejatian diri, mungkin ilmu yang Kita miliki sangat jauh dari sempurna. 

Namun fahamilah, Allahlah yang akan menyempurnakannya, memperbaiki titik demi titik celah kita karena DIA Maha menutupi aib kita. 

Asalkan Kita memiliki cukup keyakinan untuk terus berjalan dan melangkah kepadaNYA. Maka penambahan demi penambahan ilmu dariNYA akan Kita peroleh. 

Fahamilah ora ono opo-opo itu adalah kahanan jati (keadaan sejati), karena Dzat Allah itu ada dalam ketiadaan (ora ono opo-opo)

oleh sebab itu ora ono opo-opo adalah DZATNYA itu sendiri. tetaplah BERLAKU BODOH dan 
ORA ONO OPO-OPO.

Ngilmu iku kelakone Kanti laku
Ilmu itu bisa dikuasai karena sebuah perjalanan.

ilmu itu, tak boleh lagi "katanya bin katanya", namun dijalani, diresapi dan dirasakan sendiri, barulah kesimpulan dari sekian lamanya waktu belajar itu bisa kita ambil.

Orang yang tak menjalani sendiri, diumpamakan orang buta yang menerka-nerka dari luar, apa yg ada didalam kotak yg terbungkus. 

Yang menjalani, mengerti dengan haqqul yakin apa yang dirasakannya dalam hatinya.

Semua yang kita dapatkan dari buku2 dan tulisan2, apalagi cuma sekedar katanya atau bahkan baru baca dari hasil Googling di Internet, semua itu adalah sesuatu yang bersifat menambah wawasan saja.

Bedakan antara mana yang disebut ILMU atau Nur dan mana yang disebut WAWASAN atau Nar.
"Cahaya itu hanya bisa ditangkap dengan cahaya, ilmu itu hanya bisa engkau tangkap dengan ketawadhu'an". 

Tawadhu' adalah membuka dadamu, membuka gerbang hatimu bagi penyerapan cahaya. Penyerapan ilmu itu adalah urusan "dari hati ke hati", bukan urusan "dari tulisan ke otak kita".
Share: 

Selasa, 15 Desember 2020

Jangan ragu-ragu dalam melangkah

سبحان من لا ينام ولا يسهو
"Subhana man la yanamu wa la yashu"
Artinya:
Maha Suci Dzat(Allah) yang tidak tidur maupun tidak lupa"

Pada umumnya, setiap orang pernah merasa takut dan ragu-ragu. Hal ini wajar sebab perasaan tersebut merupakan bagian emosi dari seseorang.
Cobalah kita ingat, ketika dihadapkan oleh sesuatu yang membuat diri kita takut, seketika itu juga akan merasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Meskipun perasaan takut dan ragu-ragu itu normal terjadi, jika hal ini terus-terusan terjadi maka akan menghambat kemajuan diri.
Oleh sebab itu, kita harus berusaha untuk membebaskan diri dari belenggu perasaan takut dan ragu-ragu.
Kesuksesan bisa diraih bila kita mampu melepaskan rasa keraguan.
Untuk menghempaskan perasaan negatif tersebut.
Percayalah bahwa hidup akan lebih berwarna bila kita berani mengambil langkah yang penuh keyakinan
(tentunya kita pun perlu yakin ada Allah SWT dan semesta alam raya dan seisinya selalu membimbing kita).
Selama kita tetap berusaha dan konsisten pada jalur kita, urusan berhasil atau gagal, sebaiknya pikirkan nanti. Yang terpenting, kita berani melangkah maju.

Visualkan BAYANGAN AKHIR DARI SEBUAH KEINGINAN

Hal penting yang perlu kita tahu adalah bayangkan akhir dari keinginan kita dan rasakan itu menjadi sebuah kenyataan,
lalu prinsip kehidupan yang tak terbatas akan merespon terhadap apa yang sadar kita pilih dan apa yang sadar kita minta.
Ini memiliki makna, percayalah kita mendapatkannya, dan maka kita pasti akan mendapatkannya.
Resik Lahir Bathin. Njobo Njero
Kun JADI Fayakun WUJUD
Demikianlah semoga Bermanfaat!


Share: 

Senin, 14 Desember 2020

Ngelmu dan Kawruh

Mereka yang mengenal pengetahuan, belum tentu berilmu. Tahu bukan berarti menguasai, sementara ilmu baru akan menjadi ilmu setelah diamalkan dan dibuktikan secara nyata.
Itulah mengapa banyak orang Jawa, yang memang dasarnya dididik untuk merendah, selalu mengatakan bahwa mereka bukan orang berilmu. Melainkan hanya orang yang memiliki kawruh saja.

Apa Bedanya Ngelmu dan Kawruh?
Ngelmu artinya ilmu, sedangkan kawruh adalah pengetahuan. Kedua hal ini tidaklah sama. Meskipun bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, perbedaannya seringkali tidak kentara.

Ilmu atau ngelmu itu mirip sebentuk petuah.
Semacam wejangan yang diturunkan. Sedangkan kawruh adalah wijenan, berasal dari kata ‘wiji’ yang berarti benih. Karena ilmu adalah sesuatu yang diwejangkan atau diturunkan, maka ilmu perlu diamalkan atau dipraktekkan.
Sedangkan kawruh adalah ilmu pengetahuan batin, yang didapat dan dijalankan orang apa adanya.
Berdasarkan perasaan batin mereka, berdasarkan apa yang mereka temui dalam hidupnya. Bukan sesuatu yang diberikan dengan tujuan untuk dipelajari dan dikuasai.
Ilmu itu ibaratnya senjata (gaman).
Kualitas sebuah senjata terbagi dua, yaitu enom (muda) dan tuwa (tua).
Untuk mengetahui kualitas ini, tentu senjata tersebut perlu digunakan lebih dulu. Tajam atau tidak, ampuh atau tidak.

Senjata yang enom (muda), berarti kurang ampuh, kurang sakti atau malah tumpul. Agar kita tahu apakah senjata ini tajam atau tidak, berarti senjata tersebut perlu digunakan lebih dulu. Itulah Ilmu.
Sedangkan kawruh, yang merupakan pengetahuan, berasal dari pengalaman dan pengamatan seseorang.

Kawruh tidak perlu dijajal, tidak perlu dipraktekkan. Tetapi cukup dijalani atau dirasakan saja. Itulah mengapa dikatakan, bahwa mereka yang punya kawruh (pengetahuan), belum tentu memiliki ngelmu (ilmu). Begitu pula sebaliknya.
Bila ngelmu itu ibarat senjata, maka kawruh itu ibarat benih padi. Bagaimana supaya benih ini tumbuh? Dimana sebaiknya ia ditanam, dan dengan cara seperti apa? Sebab benih padi, ibaratnya pengalaman, membutuhkan proses yang berjalan alami.
Namanya Ilmu itu susah dicari (ngelmu= angel ditemu/ sulit ditemukan), tetapi ia merupakan barang jadi. Dengan demikian maka ilmu diperoleh dalam wujud wejangan (entah amalan atau mantra) yang kemudian dipraktekkan untuk mendapatkan manfaatnya.

Sedangkan kawruh merupakan sesuatu yang tidak membutuhkan pembuktian. Ia muncul dari proses penghayatan, dari merasakan apa yang kita lakoni dalam hidup. Kawruh bersifat melekat dalam diri, tidak bersifat sakti dan tidak dapat disombongkan.

Oleh karena itu, manusia hendaknya tetap rendah hati meskipun berilmu tinggi. Karena ilmu pada dasarnya merupakan barang jadi. Apalah artinya gelar berderet-deret di belakang nama, bila tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Seorang manusia itu, semakin banyak yang ia tahu, maka akan semakin ia merasa, bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.

Demikianlah semoga Bermanfaat!
Share: 

Minggu, 13 Desember 2020

Kamal, Kamillah, hingga Insan Kamil.


Kamal adalah sifat Sempurna-Nya Allah, Kamillah adalah orang" yg Allah kehendaki atas kesempurnaan-Nya, sehingga disempurnakan dan dijaga segala sesuatu pada diri hamba tersebut, agar tetap mempunyai sifat kesempurnaan. Dan Insan Kamil adalah sebutan manusia yg telah disempurnakan priadi dan hatinya, dan Dia yg menjaga kesempurnaan itu.

Insan Kamil adalah manusia yg mampu menjaga keseimbangan alam ini, sedangkan hati dan rasanya ada dlm penjagaan-Nya. Dialah manusia yg dr padanya merupakan sumber kehidupan, sumber ketenangan, sumber keindahan, sumber penjagaan, sumber cinta kasih dan sumber cahaya bagi semesta raya.

Insan Kamil, adalah mereka yg sdh mampu memilah dan menyelami hakikat dirinya, bahwa dirinyalah santan dr buah kelapa, dialah mutiara bagi kerang, dialah daging dr sebuah duren, dialah sari pati dr segala kehidupan. Sehingga setiap orang, setiap makluk membutuhkan cahaya hidupnya...

Berbahagialah duhai jiwa, bila kau sdh menemukan saripati hidupmu, sehingga kau mampu menjadi sumber kehidupan bagi semesta alam...

Share: 

Senin, 11 Februari 2019

Cokro Manggilingan


“Cokro Manggilingan” sebuah filsafat Jawa yang sangat dalam maknanya. untuk mencapai ketentraman lahir dan batin. Secara fisik, Cokro (cakra) itu merupakan sebentuk lempengan bulat bergerigi dan tajam seperti ujung pada panah para Pandhawa atau juga kelengkapan senjata tokoh wayang raja Darawati “Sri Bathara Kresna”. Sementara Manggilingan itu sendiri bermakna berputar atau perputaran. Cokro Manggilingan ini menganalisa siklus hidup manusia, perputaran masa, serta peralihan nasib manusia yang sangat sulit diprediksi.

Hidup ini laksana Cokro yang berputar. Ia akan terus berputar dan hanya akan terhenti apabila ada kehendak dari Tuhan Sang Pencipta. Terkadang kita akan berada di bawah sehingga harus bersabar dan tawakal. Tapi percayalah, pada saat yang tepat dengan usaha dan doa, bisa naik ke tengah atau samping. Perputaran waktu dan nasib juga memungkinkan orang yang berada di tengah dapat naik ke puncak. Akan tetapi, waspadalah bila sudah di puncak, manusia setelah mendapat “lebih” sering kali lupa diri, “aku” nya makin tinggi. Jangan sekali-kali merasa kuasa hingga lupa diri dan takabur. Itu sebabnya para pinisepuh yang bijak menambahkan nasehat: aja sok adigang-adigung-adiguna. Singkatnya: jangan sok, mentang- mentang berkuasa lalu berbuat semaunya, lebih-lebih mematikan rasa. Bila rasa dinihilkan, muncul sikap sok berkuasa, dan akhirnya lahir tingkah laku yang tidak terkontrol (pethakilan). Kalau sudah sampai taraf pethakilan, tinggal tunggu waktu kapan dirinya terjerembab oleh tingkahnya sendiri.

Sama dengan air sebagai bagian dari unsur makrokosmos, ia akan selalu mengalir dan berputar. Lalu turun lagi ke bumi, mengalir kembali ke laut. Tidak mudah bagi air untuk mengalir ke laut. Bisa saja mengalir pelan bahkan dibendung dalam jangka waktu yang lama. Air juga dikonsumsi oleh manusia dalam sebuah rotasi organis yang alamiah. Air adalah symbol kehidupan dan salah satu lambang dari Cokro Manggilingan.

Sumber : buku Filsafat Jawa
Share: 

Sabtu, 21 April 2018

SELESAIKANLAH !

“Demi massa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1 – 2)

Begitulah Allah SWT menyandingkan keadaan manusia yang merugi dengan massa atau waktu. Allah SWT bersumpah dengan makhluknya yang bernama waktu untuk meyakinkan manusia, bahwa manusia dalam keadaan merugi. Salah satu hikmah yang dapat kita ambil adalah kegemaran manusia menyia-nyiakan waktu sebagai sebuah sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan. Mungkin karena kita merasa waktu adalah sumber daya yang gratis yang diberikan oleh Allah SWT, sehingga kita menganggap waktu tidak terlalu berharga sebagai sebuah sumber daya.
Jika dapat dianalogikan, kehidupan kita bagaikan sebuah buku tulis atau buku gambar yang biasa kita bawa ketika kita sekolah atau kuliah. Dimana banyaknya halaman yang ada di buku tersebut merupakan panjang umur hidup kita. Setiap kali kita buka buku itu maka terlihatlah torehan-torehan karya hidup kita, baik berupa tulisan ataupun sebuah lukisan. Dan setiap kalipun kita membawanya ke sekolah atau ada pekerjaan rumah, kita membuat torehan-torehan baru dibuku tersebut.
Suatu saat kita terpikir untuk membuat sebuah lukisan atau sebuah hasil karya tulisan yang indah, sebuah mahakarya dari kita sendiri. Lalu kita coba membuat goresan-goresan awal dengan masih terbayang oleh kita hasil akhir karya yang sedang kita buat, betapa indahnya. Begitupun tulisan kita, kata-kata atau kalimat-kalimat awal kita tulis dengan semangat. Dengan gambaran sebuah tulisan yang menggugah hati semua orang.
Hingga ditengah usaha kita membuat sebuah lukisan indah atau tulisan itu jari-jari kita terhenti kaku. Kita kehabisan kata-kata yang akan kita tulis atau kita kehilangan gambaran-gambaran yang akan kita lukis. Buntu rasanya kepala ini. Hingga putus asa mulai menginggapi pikiran kita dan keputus-asaan mengalir ke jari-jari kita. Dan mulai hilanglah sedikit demi sedikit gambaran lukisan dan tulisan indah itu.
Lalu apa yang kita lakukan? Kita dengan gagahnya membalik halaman dan meninggalkan hasil karya kita itu berhenti ditengah jalan. Dengan alasan ingin membuka lembaran baru dan memulai sesuatu yang baru, dan kita tidak pernah menyelesaikan gambaran indah kita itu.
Begitulah analogi kita dalam mewujudkan cita-cita, awalnya gambaran cita-cita itu begitu indah dan langkah tegap kita memulai langkah-langkah menuju cita-cita. Namun apa yang terjadi, ketika hambatan terasa begitu berat di tengah jalan kita memutuskan untuk berhenti dan mengubah arah hidup kita. Tanpa menyelasaikan apa yang telah kita cita-citakan dahulu.
Allah SWT berfirman pada surat Al-Insyiroh ayat 7:
“ Jika kamu telah selesai dari suatu urusan, maka selesaikanlah dengan semangat urusan yang lain.”
Allah SWT berfirman kepada kita agar menyelesaikan suatu urusan baru menyelesaikan urusan yang lain. Janganlah kita tinggalkan begitu saja apa yang telah kita awali dahulu. Janganlah kita menjadi orang yang ringan tangan untuk membuka lembaran baru, padahal kita belum maksimal pada lembaran yang terdahulu.
Menjadi pertanyaan besar bagi kita, apakah menjadi jaminan ketika kita membuka lembaran baru maka dengan gambaran baru yang kita hadirkan akan selesai sampai akhir? Tidak ada jaminan untuk itu kawan, kemungkinan besar kita akan melakukan hal yang sama terhadap gambaran baru kita ini, yaitu menghentikannya ditengah jalan. Ketahuilah Allah SWT akan selalu menguji kita dengan perkara yang sama jika kita tidak mampu menyelesaikannya sekarang! Atau maukah kita menjadi manusia yang hobi untuk memulai tapi tidak berani untuk menyelesaikan?
Janganlah kita menjadi orang yang menyesal di akhir, menyesal karena baru menyadari betapa kita menyia-nyiakan waktu dengan terlalu mudah membuka lembaran baru dan menyesal ketika kita menyadari ternyata lembaran-lembaran kosong itu tinggal sedikit. Ternyata lembaran kosong itu hanya tinggal dua atau tiga lembar. Ketika saat itu datang kita akan menyesali betapa banyak lembaran-lembaran hidup kita yang isinya hanya beberapa baris, bahkan lebih banyak barisan kosong dibandingkan barisan yang terisi oleh tulisan-tulisan. Atau belum ada satupun lembar yang terisi penuh dengan tulisan kita, semuanya selalu berhenti dan tidak sampai baris terakhir.
Selesaikanlah dengan sekuat tenaga apa yang telah kita mulai dulu, jangan terlalu mudah berganti lembaran. Anggaplah lembaran-lembaran kosong itu tidak ada lagi, anggaplah lembaran yang sedang kita goreskan hasil karya kita sekarang ini adalah lembaran terakhir, hingga kita mampu memaksimalkan lembaran tersebut.
Sesungguhnya memulai itu lebih mudah kawan, yang lebih sulit adalah menyelesaikan apa yang telah kita mulai dulu. Jadilah orang yang dewasa, orang yang luar biasa, orang yang mampu mewujudkan gambaran indah kita diawal langkah kita dulu.
“Dan hanya kepada Rabb-mulah kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyiroh: 8 )
Wallahu’alam Bishshowab
Share: