Selasa, 25 November 2025

Di balik Keputusan

Dalam hidup, kita sering kali terpaku pada apa yang kita pilih. Pekerjaan mana yang harus diambil, hubungan mana yang harus dipertahankan, impian mana yang harus dikejar. Kita sibuk menilai hasil akhirnya benar atau salah, bagus atau buruk, beruntung atau sial. Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, hidup sebenarnya bukan tentang apa yang dipilih, melainkan kenapa pilihan itu terjadi.

Setiap keputusan muncul dari perjalanan panjang yang membentuk diri kita. Luka, keberanian, ketakutan, harapan, intuisi, dan pengalaman. Terkadang pilihan lahir dari keyakinan yang matang, namun sering juga muncul dari kondisi terdesak yang memaksa kita bergerak. Apa pun bentuknya, alasan di balik pilihan adalah cermin dari versi diri kita pada saat itu dan itu tidak pernah sia-sia.

Namun kita juga harus sadar, setiap pilihan selalu menuntut pengorbanan.

Ketika memilih jalan A, kita meninggalkan jalan B. Saat mengejar impian, kita melepas kenyamanan. Ketika mencintai seseorang, kita menyingkirkan kemungkinan lain. Dan saat memilih bertahan, kita mengorbankan kesempatan untuk pergi, atau sebaliknya.

Pengorbanan bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa kita berani bergerak. Bahwa kita sadar hidup bukan hanya tentang mendapat, tetapi juga tentang melepaskan. Bukan tentang menang, tetapi tentang tumbuh. Bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau belajar.

Pada akhirnya, pilihan hidup bukan untuk membuat kita sempurna. Pilihan hidup ada untuk membuat kita utuh.

Jadi, ketika kamu ragu atau menyesal atas keputusan yang pernah dibuat, ingatlah,
Setiap pilihan terbentuk dari alasan yang pada saat itu kamu yakini sebagai yang terbaik.
Dan setiap pengorbanan adalah tiket menuju versi dirimu yang lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih mengerti arah hidupnya.

Teruslah memilih. Teruslah bergerak.
Karena hidup bukan tentang apa yang kau pilih tetapi tentang perjalanan yang membawamu pada pilihan itu, dan keberanianmu menanggung konsekuensinya.
Share: 

Senin, 24 November 2025

Kita diciptakan untuk bertahan

Ada kalanya hidup terasa seperti hantaman bertubi-tubi. Kenyataan tidak selalu mengikuti harapan. Sering kali justru membawa kita pada situasi yang membuat dada sesak, hati remuk, dan pikiran ragu untuk melangkah lagi. Realitas memang keras, kadang terlalu keras untuk kita yang hanya manusia biasa.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Tugas kita sebagai manusia adalah melanjutkan kehidupan.

Kita mungkin jatuh, patah, kehilangan, atau dikhianati. Tapi tidak ada babak hidup yang berhenti hanya karena rasa sakit datang. Kenyataan yang pahit bukan untuk membuat kita berhenti, tetapi untuk menguji seberapa kuat kita berdiri ketika tidak ada hal lain yang menopang selain keinginan untuk tetap hidup.

Terus bergerak bukan berarti kita harus selalu kuat. Kadang melanjutkan kehidupan berarti menangis malam ini tapi mencoba lagi besok. Kadang berarti berjalan pelan, tersandung, lalu bangkit dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Dan itu tidak apa-apa.

Manusia memang tidak diciptakan untuk sempurna, kita diciptakan untuk bertahan.

Realitas boleh melukai, tapi harapan selalu bisa tumbuh. Selama kita memilih untuk melangkah, sekecil apa pun langkah itu, kita sedang membangun kembali diri kita sendiri. Dan suatu hari nanti, rasa sakit hari ini akan menjadi bukti bahwa kita pernah kuat pada saat paling rapuh dalam hidup.

Jadi, ketika hidup terasa berat, ingatlah,
Meneruskan kehidupan bukan hanya tugas kita, tapi juga bukti keberanian kita.

Teruskan hidupmu. Kamu tidak sedang berjalan tanpa arah, kamu sedang membentuk masa depanmu, satu langkah demi satu langkah.
Share: 

Selasa, 24 Desember 2024

Hanyut Rindu

Malam ini, hujan turun seperti air mata langit, membasahi jendela kamar. Aku menatap ke luar, dan teringat padanya. Kami pernah berjalan bersama di malam hujan seperti ini, menikmati keindahan malam dan berbagi cerita.

Tangannya memegang tanganku, membuatku merasa aman dan nyaman. Kami berjanji untuk selalu bersama, tapi kenyataan berbicara lain. Dia pergi, meninggalkan aku sendiri dengan kenangan.

Hujan semakin deras, seperti menggambarkan rindu yang menghanyutkan hati. Aku merasa sedang terhanyut dalam lautan sepi. Aku merasakan kekosongan yang tak terisi.

Hujan berhenti, tapi rindu tidak. Aku menutup mata, membiarkan kenangan kami menghanyutkan. Mungkin suatu hari, rindu ini akan berakhir. Tapi, untuk sekarang, aku akan menyimpan kenangan, di malam hujan ini.
Share: 

Sabtu, 04 Mei 2024

Mengalirlah

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, aliran kehidupanmu mengucur dari situ, semua bentuk yang engkau lihat, memiliki “mata air tetap” di alam tak bertempat. Tidak mengapa ketika bentuk musnah, karena aslinya selalu abadi.

Semua wajah cantik yang pernah kau lihat, semua kata penuh makna yang pernah kau dengar, janganlah berduka ketika semua itu hilang, karena sesungguhnya tidaklah demikian adanya

Ketika mata air menjadi sumber tak-terhenti, cabangnya terus mengalirkan air kemana-mana, lalu, apa yang engkau keluhkan? apa juga yang engkau risaukan?

Pandanglah jiwa sebagai pancuran, dan semua ciptaan ini sebagai sungai, ketika pancuran mengucur, sungai pun mengalir dari situ.

Taruhlah kesedihanmu, dan teruslah minum air sungai ini, jangan pernah pikirkan kapan surutnya, aliran ini tiada hentinya.

Dari saat pertama engkau memasuki alam wujud ini, sebuah tangga sudah ada di hadapanmu, sehingga engkau dapat menapaki tangga ini untuk naik keatasnya.

Pertama engkau adalah mineral, lalu engkau berubah menjadi tetumbuhan, kemudian engkau menjadi hewan, hal ini semua telah kau lewati dan menjadi rahasia bagimu?

Kemudian engkau menjadi insan, dengan pengetahuan, akal dan keyakinan.

Pandanglah raga ini, yang tersusun dari tanah liat kering, pandanglah bagaimana dia telah tumbuh dengan sempurna. Ketika engkau berjalan terus dari insane, tiada diragukan lagi engkau akan menjadi malaikat.

Ketika engkau telah meninggalkan bumi ini, maka kedudukanmu adalah di langit, lewatilah ke-malaikat-anmu, masukilah samudra itu.sehingga tetesanmu menjadi lautan yang tak terhingga luasnya. tinggalkanlah kata “manusia” katakanlah “Yang Maha Esa” dengan seluruh jiwamu.

Tidak menjadi soal bila raga menjadi tua, lemah dan lusuh; ketika jiwa senantiasa muda.

Surah An-Nisa, (4 : 79)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah (faminallah), dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri (faminnafsika) . Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

 •••


Share: 

Sabtu, 07 Oktober 2023

Menggapai Sumeleh

"Semua itu tidak ada" (kabeh kui ora ono)
Yang ada hanya Allah semata. Egoisme atau keakuan digeser dan dihancurkan. Jiwa menjadi kosong dari segala sesuatu kecuali Allah.
Gambaran tentang makhluk dibongkar dan ditiadakan untuk sementara waktu atau untuk waktu yang lama.

Tiada Tuhan selain Allah, Tiada wujud sesungguhnya kecuali Allah, dan tiada ada yang dituju atau dimaksud kecuali hanya Allah.

Sumeleh tempatnya dalam hati, pikiran kosong dari segala masalah, pengertian dan benda-benda kecuali hanya Allah. Pikiran tidak dapat melihat dan membuktikan hakikat Allah.



"Laisa Kamitslihi Syaiun"
Tan keno kinoho ngopo. Oleh karena itu pikiran mesti sumeleh. Sumeleh adalah milik hati. Hati mesti dibersihkan sebersih-bersihnya hingga tiada yang lain kecuali Allah. Hati disiapkan sedemikian rupa dengan dzikrullah dan akhlaq al karimah.

Sumeleh adalah sarana/metodologi menuju ma'rifat. Sebagai metodologi, sumeleh menduduki posisi penting dalam sirri ma'rifat. Hanya kepada Allah lah jalan kembali. Pada Hakikatnya, Allah sendiri yang menjalankan dan membuat metodologi itu hidup dan berkembang. Allah sendirilah yang menghendaki jalan itu berdiri. Adanya Allah menghendaki ketiadaan diri. Disini keberadaan manusia (eksistensialisme) mengalami peleburan, penghilangan, dan peniadaan untuk mencapai "Ada yang Sejati" (Allah).

Ibaratnya, hanya yang kosong yang dapat diisi. Allah akan singgah ke rumah hati yang kosong dari syirik dan segala sesuatu selain-Nya.
Hati hanya menerima tauhid yang dicapai dengan Sumeleh.
Hati yang demikian yang siap menampung Allah dengan Ma'rifat.
Share: